Askep TBC (Asuhan Keperawatan Tuberculosa)

http://4.bp.blogspot.com/-TDSGihH2ehs/UvOyNJRqMoI/AAAAAAAAAAc/tVKH64_s2TM/s1600/2.gif
Bookmark and Share
1. Pengertian
a. Tuberkolusis
Tuberkolusis paru yaitu satu penyakit menular yang dikarenakan oleh basil mikrobacterium tuberkolusis yang adalah diantara penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke di dalam jaringan paru lewat airbone infection dan berikut alami proses yang dikenal jadi focus primer dari ghon (Alsagaff, 1995:73).

b.Batuk darah (hemoptisis)
Batuk darah (hemoptisis) adalah darah atau dahak berdarah yang dibatukkan datang dari saluran pernafasan bagian bawah yakni dimulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri bila asal robekan pembuluh darah tidak luas, hingga penutupan luka dengan cepat terjadi. (Alsagaff, 1995:301)

2. Faktor- factor yang merubah/mempengaruhi munculnya problem.
a. Anatomi dan fisiologi
System pernafasan terdiri dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, sampai dengan alveoli dan paru-paru. Hidung adalah saluran pernafasan yang pertama, memiliki dua lubang/cavum nasi. Di dalam ada bulu yang bermanfaat buat menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk di dalam lubang hidung. Hidung bisa menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa (Syaifuddin, 1997:87)

Faring adalah area persimpangan pada jalur pernafasan dan jalur makanan, faring ada dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Faring dibagi atas tiga bagian yakni sebelah atas yang sejajar dengan koana yakni nasofaring, bagian sedang dengan istimus fausium disebut orofaring, dan di bagian bawah sekali dinamakan laringofaring (Syafuddin, 1997:88).

Trakea adalah cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20 cincin), panjang 9-11 cm dan di belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos dan lapisan mukosa. Trakea dipisahkan oleh karina jadi dua bronkus yakni bronkus kanan dan bronkus kiri (Syaifuddin, 1997:88-89)

Bronkus adalah kelanjutan dari trakea yang membentuk bronkus utama kanan dan kiri, bronkus kanan lebih pendek dan semakin besar dari pada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung – ujung nya ada gelembung paru atau gelembung alveoli (Syaifuddin, 1997:89-90).

Paru- paru adalah sesuatu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung – gelembung. Paru-paru terbagi jadi dua yakni paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Paru-paru terletak pada rongga dada yang salah satunya menghadap ke bagian tengah rongga dada/kavum mediastinum. Paru-paru memperoleh darah dari arteri bronkialis yang kaya akan darah dibanding dengan darah arteri pulmonalis yang datang dari atrium kiri. Besar daya muat udara oleh paru-paru adalah 4500 ml sampai 5000 ml udara. Cuma beberapa kecil udara ini, kurang lebih 1/10 nya atau 500 ml yaitu udara gunakan surut. Namun kapasitas paru-paru yaitu volume udara yang bisa di capai masuk dan keluar paru-paru yang di dalam kondisi normal ke-2 paru-paru bisa menampung sejumlah kurang lebih 5 liter (Syaifuddin, 1997:90, Evelyn, Pierce, 1995:221).

Pernafasan (respirasi) yaitu peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke di dalam tubuh (inspirasi) dan mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi keluar tubuh (ekspirasi) yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan tekanan pada rongga pleura dan paru-paru. Proses pernafasan tersebut terdiri dari 3 bagian yakni :
  1. Ventilasi pulmoner. Ventilasi adalah proses inspirasi dan ekspirasi yang adalah proses aktif dan pasif yang mana otot-otot interkosta interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar, mengakibatkan diafragma turun dan otot diafragma berkontraksi. Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna relaksasi karena rongga dada jadi kecil kembali, jadi udara terdorong keluar (Luh, 1995:124; Syaifuddin, 1997:91).
  2. Difusi gas. Difusi gas yaitu bergeraknya gas co2 dan co3 atau partikel lain dari area yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan rendah. Difusi gas lewat membran pernafasan yang dipengaruhi oleh faktor ketebalan membran, luas permukaan membran, komposisi membran, koefisien difusi o2 dan co2 dan perbedaan tekanan gas o2 dan co2. Di dalam difusi gas ini pernafasan yang bertindak perlu yakni alveoli dan darah (Luh, 1995:124; Syaifuddin, 1997:93; Alsegaff, 1995:36-37).
  3. Transportasi gas. Transportasi gas yaitu perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan pertolongan darah (aliran darah). Masuknya o2 ke dalam sel darah yang berhimpun dengan hemoglobin yang sesudah itu membentuk oksihemoglobin sejumlah 97% dan sisa 3 persen yang ditransportasikan ke di dalam cairan plasma dan sel (Luh, 1995:125; Alsegaff, 1995:40).

b. Patofisiologi.
Penyebaran kuman mikrobacterium tuberkolusis dapat masuk lewat tiga area yakni saluran pernafasan, saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini kerap terjadi lewat udara (airbone) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi pada mulanya (Price, 1995:754).

Penularan tuberculosis paru terjadi dikarenakan penderita tbc membuang ludah dan dahaknya sembarangan lewat cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Di dalam dahak dan ludah ada basil tbc-nya, hingga basil ini mengering lantas diterbangkan angin ke mana-mana. Kuman terbawa angin dan jatuh ke tanah ataupun lantai tempat tinggal yang sesudah itu terhirup oleh manusia lewat paru-paru dan bersarang dan berkembang biak di paru-paru (Hendrawan, 1996:1-2).

Pada permulaan penyebaran akan terjadi lebih dari satu kemungkinan yang dapat nampak yakni penyebaran limfohematogen yang bisa menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. perihal ini bisa meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah di dalam jumlah kecil yang bisa menyebabkan lesi pada organ tubuh yang lain. Basil tuberkolusis yang dapat meraih permukaan alveolus umumnya di inhalasi jadi satu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Karenanya ada basil yang meraih area alveolus, ini terjadi di bawah lobus atas paru-paru atau di bagian atas lobus bawah, jadi perihal ini dapat membangkitkan reaksi peradangan.

Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama ini digantikan oleh makrofag. Pada alveoli yang diserang alami konsolidasi dan menyebabkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga bisa menyebar lewat getah bening menuju kelenjar getah bening regional, hingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan jadi lebih panjang dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh limfosit, proses tersebut memerlukan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi primer paru yang umumnya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon.

Kompleks ghon yang alami pencampuran ini juga bisa diketahui pada orang sehat yang kebetulan melakukan kontrol radiogram teratur. Lebih dari satu respon lain yang terjadi pada tempat nekrosis yaitu pencairan, dimana bahan cair lepas ke dalam bronkus dan menyebabkan kavitas. Pada proses ini bakal dapat terulang kembali di bagian tak hanya paru-paru maupun basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga bagian tengah atau usus. (Price, 1995:754)

Kavitas yang kecil bisa menutup walaupun tanpa adanya penyembuhan dan bisa meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkus bisa menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang ada dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkijauan bisa mengental hingga tidak bisa mengalir lewat saluran penghubung, hingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi serupa dengan lesi berkapsul yang tidak lepas. Kondisi ini dapat tidak menyebabkan gejala kurun waktu lama atau membentuk lagi jalinan dengan bronkus dan jadi area peradangan aktif (Price, 1995:754).

Batuk darah (hemaptoe) yaitu batuk darah yang terjadi dikarenakan penyumbatan trakea dan saluran nafas hingga timbul sufokal yang kerap fatal. Ini terjadi pada batuk darah masif yakni 600-1000cc/24 jam. Batuk darah pada penderita tb paru dikarenakan oleh terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kapitas. (Alsagaff, 1995:85-86).

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar